Peras Kepala Sekolah, Mantan Kejari Inhu dan Dua Staff Dipenjara

By Chelba Polanda 17 Mar 2021, 13:37:49 WIB Hukum
Peras Kepala Sekolah, Mantan Kejari Inhu dan Dua Staff Dipenjara

Keterangan Gambar : Ilustrasi Pemerasan, Source: Republika.co.id


Kabarbawah.com - Kasus pemerasan terhadap para guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) se Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), dengan terdakwa Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Inhu, serta dua staffnya. Dinyatakan hakim terbukti secara sah melakukan perbuatan melawan hukum.

Ketiga terdakwa yakni, Hayin Suhikto, selaku Kepala Kejari Inhu, Ostar Alpansari, Kasi Pidsus Kejari Inhu dan mantan Kasubsi Barang Rampasan, Rionald Febri Rinaldo. Dijatuhi hukuman pidana penjara selama 5 tahun dan 4 tahun. Vonis hukuman tersebut lebih tinggi dari tuntutan jaksa penuntut.

Baca Lainnya :

Berdasarkan amar putusan majelis hakim Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, pada sidang Selasa (14/3/21) siang. Ketiga terdakwa terbukti secara sah melanggarPasal 23 Undang-undang (UU) RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

" Menghukum terdakwa Hayin Suhikto dengan pidana penjara selama 5 tahun denda Rp 200 juta subsider 3 bulan. Dua terdakwa Ostar Alpansari dan Rionald Febri Rinaldo, dihukuman masing masing dengan pidana penjara selama 4 tahun denda Rp50 juta subsider 1 bulan," terang majelis hakim yang diketuai Saut Maruli Tua Pasaribu, dalam sidang yang digelar secara virtual.

Sebelumnya, tiga mantan oknum jaksa di Kejaksaan Negeri (Kejari) Indragiri Hulu (Inhu), yang didakwa telah melakukan pemerasan terhadap 61 kepala SMP negeri se Inhu itu, dituntut hukuman oleh jaksa penuntut selama 3 tahun dan 2 tahun.

Berdasarkan amar tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Eliksander Siagian SH dari Kejaksaan Agung RI, Hayin Suhikto, selaku Kepala Kejari Inhu, dituntut hukuman 3 tahun penjara. Ostar Alpansari, dan Rionald Febri Rinaldo, dituntut hukuman masing masing 2 tahun penjara.

Seperti diketahui, ketiga terdakwa didakwa telah melakukan pemerasan terhadap kepala SMP negeri di Inhu sebesar Rp1,5 miliar. Perbuatan para terdakwa tersebut terjadi pada bulan Mei 2019 sampai dengan Juni 2020 lalu.

Hayin menerima uang Rp 769.092.000, Ostar menerima Rp275 juta dan satu unit iPhone X sedangkan terdakwa Rionald menerima uang Rp115 juta, dengan total Rp1.505.000.000,. Uang tersebut berasal dari 61 kepala SMP negeri di Inhu.

Perbuatan ketiga terdakwa berawal ketika kepala SMP itu menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2016 hingga 2018. Ada laporan pengelolaan dana diduga diselewengkan

Bukannya melakukan penyelidikan, dan pelaksanaan tugas sesuai prosedur yang berlaku terhadap adanya dugaan Tidak Pidana Korupsi dalam pengelolaan dana BOS itu, para terdakwa justru meminta uang kepada para kepala SMP agar kasus tidak dilanjutkan.

Perbuatan terdakwa bertentangan dengan Pasal 5 angka 4 dan 6 Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Pasal 10 UU Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI, Pasal 23 huruf d, e dan f Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Pasal 4 angka 1 dan 8 Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, Pasal 4 huruf d, Peraturan Jaksa Agung RI Nomor: PER-067/A/JA/07/2007 tanggal 12 Juli 2007 perihal Kode Etik Perilaku Jaksa, Peraturan Jaksa Agung Nomor 006/A/JA/07/2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan RI.

Terdakwa juga melanggar Peraturan Jaksa Agung RI Nomor: PER-039/A/JA/10/2010 tanggal 29 Oktober 2010 tentang Tata Kelola Administrasi dan Teknis Penanganan Perkara Tindak Pidana Khusus tentang Tata Kelola Administrasi dan Teknis Penanganan Perkara Tindak Pidana Khusus.

Sumber : Riauterkini.com




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

+ Indexs Berita

Berita Terbaru

Berita Utama

Berita Populer

Berita Pilihan

View all comments

Write a comment