Infografis: Perjalanan Orde Baru Membangun Industri Penerbangan di Tanah Air

By Feni Yan 10 Jan 2021, 15:06:09 WIB Sejarah Indonesia
Infografis: Perjalanan Orde Baru Membangun Industri Penerbangan di Tanah Air

Keterangan Gambar : Foto: Pesawat N250


Kabarbawah.com - “Pada tahun kita merayakan setengah abad Kemerdekaan Nasional, pada waktu kita berada pada mula tahap tinggal landas saat ini, putra- putri bangsa kita sudah mulai memahami teknologi mutahir.”

Demikian penggalan Pidato Kenegaraan Presiden Soeharto di depan Persidangan DPR pada bertepatan pada 16 Agustus 1995, menyongsong HUT RI ke- 50. 6 hari sebelumnya, bangsa Indonesia baru saja melihat penerbangan perdana pesawat N250 Gatotkaca buatan Industri Pesawat Terbang Nusantara( IPTN). Bacharuddin Jusuf Habibie terletak di balik kesuksesan hajatan berjudul teknologi besar awal di tanah air itu.

Pesawat N250 Gatotkaca merupakan pesawat penumpang awal yang mengenakan teknologi canggih fly by wire. Saat pertama kali mengudara pada 10 Agustus 1995 di atas langit Kota Bandung, Gatotkaca diawaki oleh pilot- penguji Erwin Danuwinata serta co- pilot Sumarwoto, dan teknisi Hindrawan Hary Wibowo serta Yuares Riadi. Tidak hanya menuai pujian, kejadian bersejarah dalam industri kedirgantaraan Indonesia ini pula dianggap bagaikan tes psikologis oleh sebagian kalangan.

Baca Lainnya :

Jurnalis senior Andi Makmur Makka dalam The True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan ( 2008: 200) menulis kalau rasa ragu serta pesimis itu timbul sebab aspek kemampuan teknologi besar yang terbilang baru di Indonesia. Pers asing yang tidak sempat memandang sisi positif dari industri penerbangan tanah air kala itu malah mengkomentarinya bagaikan pertaruhan Habibie. Majalah asal Hong Kong, Asiaweek, edisi 11 Agustus 1995, terang- terangan memperhitungkan uji coba perdana secara terbuka yang dicoba pemerintah Indonesia tidaklah perihal yang lumrah.

“ Bagaimana jika terjadi kesalahan? Sebagian orang yakin apalagi Soeharto juga tidak akan sanggup menyelamatkan kawan lamanya dari kekacauan tingkatan besar semacam itu,” tulis Asiaweek.

Bagi Makmur Makka, pemberitaan Asiaweek jadi teror untuk sebagian kecil kawasan pejabat besar pemerintahan. Bila N250 betul- betul alami musibah, bukan cuma Habibie serta IPTN yang mendapat malu, melainkan pemerintah Indonesia secara totalitas. Tekad pengembangan negeri berbasis teknologi tinggi yang telah direncanakan rezim Soeharto semenjak awal tahun 1970- an itu dapat sirna berhamburan.


Minyak Menyalakan Ambisi Teknologi

Sejarah perakitan pesawat terbang oleh orang- orang Indonesia hampir seusia Republik Indonesia. Pada tahun 1940- an, Agustinus Adisutjipto, seseorang lulusan sekolah penerbangan Kalijati Maguwo, Yogyakarta, merancang ulang pesawat intai buatan Jepang menjadi pesawat serbu. Jejaknya ini diikuti oleh Wiweko Soepeno serta Nurtanio Pringgoadisurjo yang membuat pesawat layang buat keperluan latihan calon kadet penerbang.

Dalam biografi Nurtanio: Perintis Industri Pesawat Terbang Indonesia ( 2004: 55), JMV. Soeparno mengisahkan kalau pesawat glider awal yang dibuat di masa revolusi itu lantas melambungkan kepeloporan Nurtanio dalam industri penerbangan. Pada pertengahan tahun 1966, Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio( LIPNUR) didirikan buat merakit pesawat terbang serbaguna bernama Gelatik. Tidak terdapat ikatan spesial antara lembaga ini dengan benih rezim Orde Baru yang lagi berkembang pada waktu itu, paling tidak hingga awal tahun 1970- an.

Pada tahun 1973, ledakan harga minyak dunia mengganti pemikiran Soeharto terhadap teknologi. Baginya, industrialisasi yang lagi tumbuh pesat di dasar pemerintahannya tidak berarti apa- apa tanpa teknologi canggih. Teknologi penerbangan ialah salah satu zona yang dinilai sangat memastikan.

Soeharto lalu alihkan wewenang pengembangan lanjutan industri penerbangan kepada Ibnu Sutowo, seseorang Letnan Jenderal yang mengepalai Pertamina. Lewat perantara Ibnu Sutowo pula, Soeharto berupaya menarik atensi Habibie yang kala itu masih bekerja di Messerschmitt Bolkow Blohm ( MBB) supaya bersedia jadi arsitek pembangunan Orde Baru di bidang ilmu pengetahuan serta teknologi.

Sejarawan Takashi Shiraishi menyebut pada mulanya minyak memainkan kedudukan berarti dalam keberhasilan proyek- proyek pemerintah di bidang industri penerbangan. Perluasan bisnis Pertamina yang terus menjadi luas membolehkan Soeharto mengaitkan Ibnu Sutowo ke dalam usaha pengembangan teknologi pembuatan pesawat terbang lewat divisi Advanced Technology and Aeronautics yang dipandu oleh Habibie.

“ Semacam halnya banyak proyek lain yang mungkin tidak hendak disetujui oleh para teknokrat ataupun IMF serta Bank Dunia, mereka pula dipercayakan kepada Ibnu Sutowo dengan Habibie bagaikan wakilnya,” tulis Shiraishi dalam makalah“ Rewiring Indonesian State” yang ada dalam bunga rampai Making Indonesia: Essays on Modern Indonesia in Honor of George McT. Kahin( 2018: 168).

Sayangnya, jalur pintas menuju Indonesia yang melek teknologi melalui dorongan minyak tidak berjalan sebagaimana mestinya. 2 tahun sehabis meraup untung yang sangat besar dari perdagangan minyak, skandal korupsi di Pertamina naik ke permukaan serta menciptakan utang sebesar 10 milyar dolar AS. Sebagian zona usahanya terpaksa diambil alih oleh para ekonom, tetapi tidak satupun di antara mereka yang bersedia menangani bagian teknologi pesawat terbang.

Habibie sendiri menerima banyak kritikan dari para ekonom yang memandang duit negeri sepatutnya dialokasikan ke bidang pembelajaran ataupun perumahan, bukan pesawat terbang. Pemikiran miring seputar teknologi itu tidak berlarut- larut. Pada tahun 1976, atas permintaan Habibie, Soeharto malah berperan lebih jauh dengan melebur divisi teknologi serta penerbangan Pertamina ke dalam LIPNUR yang setelah itu melahirkan IPTN.

Negara Teknologi Orde Baru

Realisasi obsesi Soeharto membangun negeri teknologi lewat industri penerbangan bersinambung kala dirinya mengangkut Habibie jadi Menteri Studi serta Teknologi pada 1978. Soeharto juga disebutkan menanggulangi sendiri pemecahan keuangan IPTN melalui aliran dana yang sedikit diketahui publik, yang berfungsi membuat institusi ini tumbuh pesat cuma dalam waktu 10 tahun.

Bagi Sulfikar Amir dalam The Technological State in Indonesia: The Co- constitution of High Technology and Authoritarian Politics( 2012: 113), pertumbuhan yang sangat mencolok dari IPTN yakni akumulasi jumlah sumber energi manusia yang bekerja di dalamnya. Di awal tahun 1990- an, industri pelat merah ini tercatat mempunyai karyawan paling banyak di Indonesia, apalagi Asia Tenggara.

Bagi Amir, IPTN untuk Soeharto ialah wadah bagi teknisi serta insiyur dari penjuru Indonesia mengasah keahlian mereka. Lewat metode ini, pemerintah mengharapkan akumulasi jumlah tenaga kerja bermutu di bidang industri serta teknologi. Melaluinya, bangsa Indonesia diharapkan terus menjadi melek teknologi serta ilmu pengetahuan.

“ Seperti yang kerap ditafsirkan dalam metafora rezim Orde Baru, IPTN berperan bagaikan benteng tempat para‘ patriot teknologi’ dilatih buat mengantisipasi pertempuran di industri global,” cerah Amir.

Di mata pejabat Orde Baru, pesawat N250 Gatotkaca yang mengudara menjelang perayaan HUT RI ke- 50 bukan semata- mata pesawat terbang biasa. Semacam disebutkan Amir dalam bukunya, N250 pada dasarnya diperlakukan ibarat artefak berteknologi mutahir buat memamerkan keberhasilan pembangunan dalam negara oleh Orde Baru di muka Asia. 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

+ Indexs Berita

Berita Terbaru

Berita Utama

Berita Populer

Berita Pilihan

View all comments

Write a comment