Catatan Akhir Tahun: Sarjana Era Corona

By Chelba Polanda 29 Des 2020, 10:54:04 WIB Sekitar Kita
Catatan Akhir Tahun: Sarjana Era Corona

Keterangan Gambar : Ilustrasi: Edi Wahyono


Kabarbawah.com - Lulus tepat waktu atau bahkan lebih cepat, bagi beberapa orang memang menjadi salah satu kebanggaan tersendiri, khususnya bagi para mahasiswa. Bagaimana tidak, lha wong perjuangan untuk sampai pada step tersebut tidak mudah. Ada usaha yang harus dibayar tuntas, njelimet, ruwet, dan tidak main-main.

Contoh kecil perjuangan tersebut adalah harus mencuri start mengerjakan tugas ketika yang lain sibuk hang out, harus bolak-balik ke perpustakaan ketika yang lain sibuk kelayapan, dan tentunya harus punya stok sabar yang berton-ton (khusus yang punya Dosen Pembimbing "awesome").

Itu baru contoh kecil, lainnya tentu lebih banyak lagi. Maka dari itu, meraih gelar sarjana baik pada program S1, S2, ataupun S3 dengan durasi waktu yang lebih singkat bagi beberapa orang adalah sebuah pencapaian besar.

Baca Lainnya :

Sayangnya, sebagai orang yang menempuh perjuangan berdarah-darah itu, saya kurang menikmati hasil akhirnya. Tidak, saya tidak sedang mencoba rendah hati. Jujur, inilah yang saya rasakan pribadi.

Memang benar, sesaat saya merasa bahagia dan bangga. Namun, perasaan positif akan takdir baik itu hanya berjalan seminggu-dua minggu setelah dinyatakan "lulus" pada sidang akhir. Selebihnya, rasa gundah dan cemaslah yang menghiasi malam-malam sebelum mata terpejam.

Bagaimana tidak gundah, saya lulus pada tahun di tengah-tengah pandemi yang memporak-porandakan hampir seluruh sudut, tepi, maupun lini dalam kehidupan. Sebagai warga negara biasa, tentu saya juga terdampak dalam situasi kalut ini.

Apesnya, dampak yang saya rasakan lebih banyak mengarah pada dampak-dampak negatif dibanding dengan dampak positifnya. Dampak yang jengkelin banget. Benar-benar tak pernah terlintas di benak saya bahwa tahun 2020 akan se-"wonderfull" ini. Jauh, sangat jauh dari ekspektasi.

Dua tahun lalu, saya sangat mendambakan dan cenderung tidak sabar untuk menantikan apa yang akan terjadi pada tahun ini. Bayangan saya kala itu, tahun 2020 akan menjadi tahun yang spektakuler; saya akan menuntaskan perjuangan sekuat yang saya bisa dengan cepat, kemudian berhasil meraih beberapa pencapaian yang telah saya impikan.

Nyatanya, zonk! Hingga akhir 2020 ini, pencapaian saya sebatas menuntaskan perjuangan untuk meraih predikat "lulus". Selebihnya, pencapaian harus di-cancel terlebih dahulu. Mirip alasan para politisi di depan layar kaca, terhadap program-program yang belum terlaksana, "harus dialihkan", "menunggu semuanya kondusif", "ada yang harus diprioritaskan", dan beberapa alasan lainnya.

Sayangnya, jika saya menggunakan alasan "ada yang harus diprioritaskan" tidak sesuai dengan kondisi saya. Karena saya belum ada prioritas; lebih parah lagi, saya belum menjadi prioritasnya.

Sebenarnya, pencapaian yang saya harapkan pada tahun ini tidak muluk-muluk amat. Realistis dan ekonomis. Sekadar lulus dan mendapat pekerjaan yang sesuai dengan bidang dan keahlian saya. Sayangnya, hingga penghujung 2020 ini, saya hanya bisa mewujudkan yang pertama, lulus. Adapun yang kedua, sepertinya semesta sedang menghadiahkan status free bagi saya.

Masalah Mendasar

Belum bekerjanya saya merupakan masalah mendasar yang sangat mempengaruhi kehidupan saya pribadi. Satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi masalah tersebut adalah mencari pekerjaan. Namun, pandemi lagi-lagi menunjukkan kedigdayaannya, merumitkan berbagai hal, termasuk pekerjaan.

Beberapa orang harus mengubah jenis, cara, dan ritme pekerjaan mereka, bahkan banyak juga yang harus kehilangan pekerjaannya. Pengangguran semakin tumpah-ruah. Alhasil, banyak tunakarya yang siap menyerbu lowongan pekerjaan apapun.

Situasi seperti ini tentu sangat tidak menguntungkan bagi para fresh graduate yang memburu pekerjaan, seperti saya. Parahnya, bekal saya untuk ikut berlomba dalam perebutan status pekerja, belum siap seratus persen. Ijazah saya belum tergenggam, masih dalam proses. Entah proses pengetikan, pengecatan, atau pelukisan. Yang sepertinya, proses tersebut terhambat juga karena situasi ini. Ya, Corona juga membuat produktivitas printer kampus terganggu. Hehehe.

Belum lagi fakta bahwa tidak banyak lapangan pekerjaan yang siap merekrut karyawan baru. Lalu mau bersaing di medan yang mana? Alhasil, situasi yang saya hadapi ini membuat saya cukup insecure pada jenis-jenis pertanyaan yang mengarah pada pekerjaan. Serupa pertanyaan, "Sibuk apa sekarang?" yang membuat saya kikuk untuk menjawabnya.

Bahkan dalam kasus yang cukup ekstrem, saya memilih untuk menghindar dari perbincangan dengan beberapa orang, termasuk kerabat. Biasanya demi meminimalkan kemungkinan mendengar jenis pertanyaan seperti itu, saya memilih untuk pura-pura tidak melihat kerabat yang jelas-jelas di depan mata. Naif, bukan?

Yang lebih naif lagi, seringkali saya membatasi perbincangan dengan orangtua. Saya memilih untuk terlibat pada tema-tema perbincangan yang jelas, agama, kesehatan, berita terkini, ataupun hal lain yang pasti arahnya. Tapi menghindar di situasi perbincangan random, yang ujung-ujungnya memperbincangkan pribadi beberapa orang.

Bukan sok agamis. Namun, ujung dari ujungnya gibah tersebut. Punya simpulan paksa yang cukup menyedihkan. Biasanya diawali dengan kalimat, "Dia, loh, sudah...." dan dilanjutkan dengan kalimat, "Lha kamu ini, belum...." Dibanding-bandingkan.

Situasi seperti ini membuat saya merasa lebih insecure dan merasa rendah diri. Bahkan membenci diri saya sendiri. Saya benci atas ketidakberdayaan diri saya dalam situasi ini. Saya benci diri saya yang terus merutuki ketidakberdayaan diri saya sendiri, saya benci.

Namun, sebenci apapun saya dengan situasi dan diri saya sendiri, saya mulai sadar. Tak ada manfaatnya terus-menerus merutuki diri sendiri. Saya hanya manusia biasa, yang tidak istimewa. Wajar jika saya ikut terdampak di kondisi ini, seperti orang lain pada umumnya.

Saya perlu mengubah mindset yang lebih positif. Kemudian, secara tidak sengaja saya membaca status salah satu influencer Facebook. Posting-an tersebut menjelaskan tentang self love. Karena tertarik, saya mulai melirik kolom komentarnya.

Ada salah satu komentar yang cukup relevan dengan kondisi saya, yang mengalami masalah terkait hilangnya self love di dirinya selama pandemi. Kemudian, sang pemilik akun yang juga berprofesi sebagai psikolog membalas komentar dengan memberikan saran, agar seseorang tersebut menaklukkan tantangan lebih. "Melakukan lebih banyak hal yang menantang."

Duuaarr! Saya yang membaca balasan singkat komentar tersebut merasa tertampar. Saya menyadari hal yang luput dari kesadaran, bahwa setelah saya dinyatakan lulus, nyaris tak ada hal baru yang cukup menantang yang saya lakukan. Saya hanya berusaha sibuk dengan rutinitas-rutinitas memantau pergerakan media sosial.

Akhirnya, sembari saya menantikan kesempatan untuk memperebutkan lowongan pekerjaan yang saya inginkan dan sesuai kemampuan akademis, belakangan saya juga menyibukkan diri untuk pekerjaan-pekerjaan freelancer yang tidak banyak menyita waktu. Menantang diri sendiri untuk menguasai beberapa hal baru.

Karena Sarjana Lulusan Corona bukan hanya unggul dalam prestasi, tapi juga harus pandai berkreasi.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

+ Indexs Berita

Berita Terbaru

Berita Utama

Berita Populer

Berita Pilihan

View all comments

Write a comment